Thursday, December 13, 2012

What Women Want

Gale    : “Who do you think Katniss will choose between you and me?
Peeta    : “She’s going to choose the one she won’t survive without.”

Apa sebenarnya yang ada dalam otak wanita ketika mereka memilih pasangan?

Kita seringkali melihat wanita yang berpasangan dengan pria berpenampilan biasa-biasa saja atau wanita yang berpasangan dengan pria berkecerdasan sedang. Dalam kasus yang lebih sering, kita juga acap kali melihat wanita yang berpasangan dengan pria kaya meskipun pria tersebut memiliki kekurangan dalam sisi-sisi vital lainnya. Ada apa dibalik semua ini?
 
Beberapa waktu yang lalu, ada sebuah artikel menarik di Tempo yang bercerita tentang bagaimana wanita cenderung menyukai pria kurus karena pria kurus memiliki antibodi yang lebih baik dibanding dengan pria gemuk. Nah, para wanita ini kemudian memilih untuk berpasangan dengan para pria kurus agar keturunan mereka kelak dapat mewarisi antibodi tersebut. Menariknya, hal ini terjadi secara alamiah tanpa disadari oleh sang wanita itu sendiri.
 
Jika penelitian tersebut valid (dan kemungkinan besar memang begitu), maka sebenarnya faktor yang membuat wanita memilih pria adalah sesuatu yang sangat dasar dan sangat alamiah. Semua ini bukan tentang cinta, tapi tentang antibodi!
 
Hasil penelitian tersebut mau tidak mau membuat kita teringat dengan teori evolusi Darwin. Dalam teorinya, Darwin berpendapat bahwa ada mekanisme alamiah bernama seleksi alam yang secara konsisten mengeliminasi organisme-organisme lemah di muka bumi. Seleksi alam ini memang kejam, tetapi berkat seleksi alam-lah seluruh organisme di dunia terus berkembang ke arah yang lebih baik. Dalam setiap generasi, individu-individu yang lemah akan mati sementara individu-individu yang kuat akan bereproduksi. Survival of the fittest. Begitu seterusnya hingga generasi yang baru akan selalu lebih baik dari pendahulunya.
 
Secara alamiah, tidak ada organisme yang ingin keturunannya ditelan seleksi alam. Oleh karena itu, seluruh organisme akan berhati-hati dalam memilih pasangan kawin. Individu yang kuat tidak akan mau bereproduksi dengan individu yang lemah karena khawatir keturunannya akan tercemar gen-gen lemah. Dalam hal ini, betina biasanya lebih pemilih karena perannya dalam proses reproduksi lebih besar dibanding pejantan.
 
Lalu bagaimana cara betina mengetahui mana pejantan yang fit dan mana pejantan yang loyo? Ternyata ada beberapa tanda-tanda (cue) pejantan yang akan dipahami betina sebagai ciri-ciri pejantan tangguh. Bagi burung merak, pejantan dengan bulu ekor paling indah dianggap sebagai pejantan paling tangguh (karena dibutuhkan kebersihan, kesehatan, dan ketelatenan untuk menumbuhkan bulu paling indah). Bagi kumbang tanduk, ketangguhan pejantan ditunjukan melalui kemampuan membawa kotoran berukuran besar. Bagi beberapa spesies burung, hal yang serupa ditunjukan melalui kemampuan sang burung jantan dalam membangun sarang yang indah. Nyaris setiap spesies memiliki caranya sendiri dalam memilih sang pejantan tangguh.

Lalu bagaimana dengan manusia? Cue seperti apa yang menandakan para pejantan tangguh?

Sebagai spesies dengan otak paling canggih, manusia memiliki standar-standar yang lebih kompleks. Bagi manusia, makna survive tidak hanya sebatas bertahan hidup. Kemampuan yang dibutuhkan manusia untuk survive juga jauh lebih rumit dari sekedar kemampuan membangun sarang atau kemampuan mengangkat kotoran. Ada kombinasi-kombinasi tertentu antara mekanisme alamiah dengan faktor-faktor sosial yang mempengaruhi paradigma manusia tentang apa itu survive dan kemampuan apa yang dibutuhkan untuk survive.

Secara sederhana, kita bisa berasumsi bahwa cue yang digunakan wanita untuk menentukan pria mana yang paling fit sangat tergantung pada asumsi individu mengenai makna survive. Bagi wanita yang berpendapat bahwa makna survive adalah kesejahteraan financial, maka status ekonomi pria menjadi cue yang penting. Bagi wanita yang berpendapat bahwa makna survive adalah kesejahteraan rohani, maka religiusitas pria menjadi cue yang penting.

Jadi, pada dasarnya kita digerakan oleh mekanisme alamiah yang sama dengan setiap organisme lain di dunia ini. We’re just a sophisticated animal.

No comments:

Post a Comment